BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Latar belakang disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang
telah diberikan oleh guru pembimbing. Makalah ini membahas tentan prinsip
–prisip ekonomi Islam. Makalah ini disusun berdasarkan tentang
masalah ekonomi yang terjadi di zaman sekarang .
Masalah ekonomi di
Indonesia belum menemukan titik terang dalam penanggulangannya.
Disini penulis berusaha menerangkan materi tentang prinsip-prinsip ekonomi
Islam untuk dijadikani pedoman contoh untuk masalah
ekonomi Islam yang terjadi di Indonesia.
B. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas dari guru
pembimbing.
2. Untuk memberikan pengetahuan
kepada siswa/i tentang
“Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam”.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
Ada
tiga sistem ekonomi yang dikenal di dunia, yaitu Sistem ekonomi
Sosialis/komunis, Sistem ekonomi Kapitalis, dan Sistem ekonomi
Islam. Masing-masing sistem ini mempunyai karakteristik.
Pertama, Sistem ekonomi
Sosialis/komunis. Paham ini muncul sebagai akibat dari paham kapitalis yang mengekploitasi
manusia, sehingga negara ikut campur cukup dalam dengan perannya yang dangat
dominan.Akibatnya adalah tidak adanya kebebasan dalam melakukan aktivitas
ekonomi bagi individu-individu, melainkan semanya untuk kepentingan bersama,
sehingga tidak diakuinya kepemilikan pribadi. Negara bertanggung jawab
dalam mendistribusikan sumber dan hasil produksi kepada seluruh masyarakat.
Kedua, Sistem ekonomi
Kapitalis. Berbeda dengan sistem komunis, sistem ini sangat bertolak
belakang dengan sistem Sosialis/Komunis, di mana negara tidak mempunyai peranan
utama atau terbatas dalamperekonomian. Sistem ini sangat menganut
sistem mekanisme pasar. Sistem ini mengakui adanya tangan yang tidak kelihatan
yang ikut campur dalam mekanisme pasar apabila terjadi penyimpangan (invisible
hand). Yang menjadi cita-cita utamanya adalah adanya pertumbuhan ekomomi,
sehingga setiap individu dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan diakuinya
kepemilikan pribadi.
Ketiga, Sistem ekonomi
Islam. Sistem ekonomi Islam hadir jauh lebih dahulu dari kedua sistem
yang dimaksud di atas, yaitu pada abad ke 6, sedangkan kapitalis abad 17, dan
sosialis abad 18. Dalam sistem ekonomi Islam, yang ditekankan adalah
terciptanya pemerataan distribusi pendapatan, seperti terecantum dalam surat
Al-Hasyr ayat 7.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah
kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka
adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan
beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang
diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka
tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras
hukumannya.
BAB III
ISI
A.
Ekonomi Islam
Thomas Khun menyatakan bahwa
setiap sistem ekonomi mempunyai inti paradigma. Inti paradigma ekonomi
Islam bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Ekonomi Islam mempunyai
sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani. Disebut Ekonomi Rabbani
karena sarat dengan arahan dan nilai-nilai Ilahiyah. Sedangkan ekonomi Insani
karena ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia.
(Qardhawi).
Menurut Yusuf Qardhawi (2004), ilmu ekonomi Islam
memiliki tiga prinsip dasar yaitu tauhid, akhlak, dan keseimbangan. Dua prinsip
yang pertama kita sama-sama tahu pasti tidak ada dalam landasan dasar ekonomi
konvensional. Prinsip keseimbangan pun, dalam praktiknya, justru yang membuat
ekonomi konvensional semakin dikritik dan ditinggalkan orang.
Ekonomi islam dikatakan memiliki dasar sebagai ekonomi Insani karena sistem
ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia.Sedangkan menurut Chapra, disebut
sebagai ekonomi Tauhid. Keimanan mempunyai peranan penting dalam ekonomi
Islam, karena secara langsung akan mempengaruhi cara pandang dalam membentuk
kepribadian, perilaku, gaya hidup, selera,dan preferensi manusia, sikap-sikap
terhadap manusia, sumber daya dan lingkungan.
Saringan moral bertujuan untuk menjaga kepentingan
diri tetap berada dalam batas-batas kepentingan sosial dengan mengubah
preferensi individual seuai dengan prioritas sosial dan menghilangkan atau
meminimalisasikan penggunaan sumber daya untuk tujuan yang akan menggagalkan
visi sosial tersebut, yang akan meningkatkan keserasian antara kepentingan diri
dan kepentingan sosial. (Nasution dkk).
Dengan
mengacu kepada aturan Ilahiah, maka setiap perbuatan manusia mempunyai nilai
moral dan ibadah. Pada paham naturalis, sumber daya menjadi faktor terpenting
dan pada pada paham monetaris menempatkan modal financial sebagai yang
terpenting. Dalam ekomoni Islam sumber daya insanilah yang terpenting.
B. Karakteristik Ekonomi Islam
Karakteristik Ekonomi Islam
bersumber pada Islam itu sendiri yang meliputi tiga asas pokok. Ketiganya
secara asasi dan bersama mengatur teori ekonomi dalam Islam, yaitu asas akidah,
akhlak, dan asas hukum (muamalah).
Ada beberapa Karakteristik
ekonomi Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-ilmiah wa
al-amaliyah al-islamiyah yang dapat diringkas sebagai berikut:
1. Harta Kepunyaan Allah dan Manusia
Merupakan Khalifah Atas Harta
Karasteristik pertama ini terdiri
dari 2 bagian yaitu :
Pertama, semua harta baik benda
maupun alat produksi adalah milik Allah Swt, firman Q.S. Al- Baqarah, ayat
284 dan Q.S.Al -Maai’dah ayat17.
Kedua, manusia adalah khalifah
atas harta miliknya.Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hadiid ayat
7.
Selain
itu terdapat sabda Rasulullah SAW, yang juga mengemukakan peran manusia sebagai
khalifah, diantara sabdanya ”Dunia ini hijau dan manis”.Allah telah menjadikan
kamu khalifah (penguasa) didunia. Karena itu hendaklah kamu membahas cara
berbuat mengenai harta di dunia ini.
Dapat
disimpulkan bahwa semua harta yang ada ditangan manusia pada hakikatnya milik
Allah, akan tetapi Allah memberikan hak kepada manusia untuk memanfaatkannya.
Sesungguhnya
Islam sangat menghormati milik pribadi, baik itu barang- barang konsumsi
ataupun barang- barang modal. Namun pemanfaatannya tidak boleh bertentang an dengan kepentingan
orang lain. Jadi, kepemilikan dalam Islam tidak mutlak, karena pemilik
sesungguhnya adalah Allah SWT.
Pada QS.an-Najm ayat 31 dan
Firman Allah SWT. dalam QS. An-Nisaa ayat 32 dan QS. Al-Maa’idah
ayat 38. jelaslah perbedaan antara status kepemilikan dalam sistem
ekonomi Islam dengan sistem ekonomi yang lainnya. Dalam Islam kepemilikan
pribadi sangat dihormati walau hakekatnya tidak mutlak, dan pemanfaatannya
tidak boleh bertentangan dengan kepentingan orang lain dan tentu saja tidak
bertentangan pula dengan ajaran Islam. Sementara dalam sistem kapitalis,
kepemilikan bersifat mutlak dan pemanfaatannya pun bebas.sedangkan dalam sistem
sosialis justru sebaliknya, kepemilikan pribadi tidak diakui, yang ada
kepemilikan oleh negara.
2. Ekonomi Terikat dengan Akidah,
Syariah (hukum), dan Moral
Diantara
bukti hubungan ekonomi dan moral dalam Islam (yafie, 2003: 41-42) adalah:
larangan terhadap pemilik dalam penggunaan hartanya yang dapat
menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat,
larangan melakukan penipuan dalam transaksi, larangan menimbun emas dan perak
atau sarana- sarana moneter lainnya, sehingga mencegah peredaran uang,
larangan melakukan pemborosan, karena akan menghancurkan individu dalam
masyarakat.
3. Keseimbangan antara Kerohanian
dan Kebendaan
Beberapa ahli Barat memiliki
tafsiran tersendiri terhadap Islam. Mereka menyatakan bahwa Islam sebagai agama
yang menjaga diri, tetapi toleran (membuka diri). Selain itu para ahli tersebut
menyatakan Islam adalah agama yang memiliki unsur keagamaan (mementingkan segi
akhirat) dan sekularitas (segi dunia). Sesungguhnya Islam tidak memisahkan
antara kehidupan dunia dan akhirat.
4. Ekonomi Islam Menciptakan
Keseimbangan antara Kepentingan Individu dengan Kepentingan umum
Arti keseimbangan dalam sistem
sosial Islam adalah, Islam tidak mengakui hak mutlak dan kebebasan mutlak,
tetapi mempunyai batasan- batasan tertentu, termasuk
dalam bidang hak milik. Hanya
keadilan yang dapat melindungi keseimbangan antara batasan- batasan yang
ditetapkan dalam sistem Islam untuk kepemilikan individu dan umum. Kegiatan
ekonomi yang dilakukan oleh seseorang untuk mensejahterakan dirinya, tidak
boleh dilakukan dengan mengabaikan dan mengorbankan kepentingan orang lain dan
masyarakat secara umum.
5. Kebebasan Individu Dijamin dalam
Islam
Individu-individu dalam
perekonomian Islam diberikan kebebasan untuk beraktivitas baik secara
perorangan maupun kolektif untuk mencapai tujuan. Namun kebebasan tersebut
tidak boleh melanggar aturan- aturan yang telah digariskan Allah SWT. Dalam
Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Dengan demikian kebebasan tersebut sifatnya tidak
mutlat.
Prinsip kebebasan ini sangat
berbeda dengan prinsip kebebasan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis.
Dalam kapitalis, kebebasan individu dalam berekonomi tidak dibatasi norma-
norma ukhrawi, sehingga tidak ada urusan halal atau haram. Sementara dalam
sosialis justru tidak ada kebebasan sama sekali, karena seluruh aktivitas
ekonomi masyarakat diatur dan ditujukan hanya untuk negara.
6. Negara Diberi Wewenang Turut
Campur dalam Perekonomian
Islam memperkenankan negara untuk
mengatur masalah perekonomian agar kebutuhan masyarakat baik secara individu
maupun sosial dapat terpenuhi secara proporsional. Dalam Islam negara
berkewajiban melindungi kepentingan masyarakat dari ketidakadilan yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, ataupun dari negara lain.
Negara juga berkewajiban memberikan jaminan sosial agar seluruh masyarakat
dapat hidup secara layak.
Peran negara dalam perekonomian
pada sistem Islam ini jelas berbeda dengan sistem kapitalis yang sangat
membatasi peran negara. Sebaliknya juga berbeda dengan sistem sosialis yang
memberikan kewenangan negara untuk mendominasi perekonomian secara mutlak.
7. Bimbingan Konsumsi
Islam melarang orang
yang suka kemewahan dan bersikap angkuh terhadap hukum karena kekayaan,
sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Israa ayat 16
8. Petunjuk Investasi
Tentang kriteria atau standar dalam menilai proyek investasi, al-Mawsu’ah
Al-ilmiyahwa-al amaliyah al-islamiyah memandang ada lima kriteria yang sesuai
dengan Islam untuk dijadikan pedoman dalam menilai proyek investasi, yaitu:
a) Proyek yang baik menurut
Islam.
b) Memberikan rezeki seluas
mungkin kepada anggota masyarakat.
c) Memberantas kekafiran,
memperbaiki pendapatan, dan kekayaan.
d) Memelihara dan
menumbuhkembangkan harta.
e) Melindungi kepentingan
anggota masyarakat.
9. Zakat
Zakat adalah salah satu
karasteristik ekonomi Islam mengenai harta yang tidak terdapat dalam
perekonomian lain. Sistem perekonomian diluar Islam tidak mengenal tuntutan
Allah kepada pemilik harta, agar menyisihkan sebagian harta tertentu sebagai
pembersih jiwa dari sifat kikir, dengki, dan dendam.
10. Larangan Riba
Islam menekankan pentingnya memfungsikan uang pada bidangnya yang normal
yaitu sebagai fasilitas transaksi dan alat penilaian barang. Diantara faktor
yang menyelewengkan uang dari bidangnya yang normal adalah bunga (riba). Ada
beberapa pendapat lain mengenai karasteristik ekonomi Islam, diantaranya
dikemukakan oleh Marthon (2004,27-33). Menurutnya hal- hal yang membedakan
ekonomi Islam secara operasional dengan ekonomi sosialis maupun kapitalis
adalah :
a) Dialektika Nilai –nilai
Spritualisme dan Materialisme
b) Kebebasan berekonomi
c). Dualisme Kepemilikan
C. Aturan Dalam Ekonomi Islam
Beberapa aturan dalam ekonomi islam adalah sebagai berikut :
1. Segala
sesuatunya adalah milik Allah, manusia diberi hak untuk memanfaatkan segala
sesuatu yang ada di muka bumi ini sebagai khalifah atau pengemban amanat Allah,
untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan
kemampuannya dari barang-barang ciptaan Allah.
2. Allah telah
menetapkan batas-batas tertentu terhadap prilaku manusia sehingga menguntungkan
individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya.
3. Semua
manusia tergantung pada Allah, sehingga setiap orang bertanggung jawab atas
pengembangan masyarakat dan atas lenyapnya kesulitan-kesulitan yang mereka
hadapi.
4. Status
kekalifahan berlaku umum untuk setiap manusia, namun tidak berarti selalu punya
hak yang sama dalam mendapatkan keuntungan. Kesamaan hanya dalam kesempatan,dan
setiap individu dapat menikmati keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya.
5. Individu-individu
memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Hak dan kewajiban
ekonomi individu disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dan
dengan peranan-peranan normatif masing-masing dalam struktur sosial.
6. Dalam
Islam, bekerja dinilai sebagai kebaikan dan kemalasan dinilai sebagai
kejahatan.Ibadah yang paling baik adalah bekerja dan pada saat yang sama
bekerja merupakan hak dan sekaligus kewajiban.
7. Kehidupan
adalah proses dinamis menuju peningkatan. Allah menyukai orang yang bila dia
mengerjakan sesuatu melakukannya dengan cara yang sangat baik.
8. Jangan
membikin mudarat dan jangan ada mudarat.
9. Suatu
kebaikan dalam peringkat kecil secara jelas dirumuskan.Setiap muslim dihimbau
oleh sistem etika (akhlak) Islam untuk bergerak melampaui peringkat minim dalam
beramal saleh.
D. Prinsip-prinsip Ekonomi Islam
1. Kejujuran (amanah)
Kata al-amanah,
yang secara etimologis berarti “jujur dan lurus”. Secara terminologis syar’i,
“sesuatu yang harus dijaga dan disampaikan kepada yang berhak menerimanya”
(Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2006).
Dengan
demikian kejujuran (al-amanah) di sini ialah suatu sifat dan sikap yang
setia, tulus hati, dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan
kepadanya, baik berupa harta benda, rahasia maupun tugas kewajiban. Pelaksanaan
amanat dengan baik dapat disebut ”al-amin” yang berarti: yang
dapat dipercaya, yang jujur, yang setia.
Kewajiban memiliki sifat kejujuran ini ditegaskan
Allah dalam al-Qur’an:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.Al-Nisa’/4:58).
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.Al-Nisa’/4:58).
Dalam
konteks sekarang, salah satu bentuk penyalahgunaan amanat adalah perilaku KKN
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Ketiganya sangat berpotensi mengabaikan prinsip
profesionalisme dan integritas moral. Adapun metode penyampaian amanah terus
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman
Dalam al-Quran terdapat beberapa makna
tentang amanah menjadi tiga macam:
a) Amanah
hamba kepada Allah, yaitu janji untuk taat, menggunakan nurani dan anggota
badannya untuk hal-hal bermanfaat. Dalam hal ini semua perbuatan maksiat adalah
pengkhianatan terhadap Allah.
QS.Al-Anfal:27;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.
QS.Al-Anfal:27;
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتَخُونُوا اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”.
b) Amanah
hamba kepada sesamanya, yaitu menjaga sesuatu yang diterima dan menyampaikannya
kepada yang berhak menerimanya. QS. Al-Nisa’:58:
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi MahaMelihat.”
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi MahaMelihat.”
c) Amanah
hamba kepada dirinya sendiri. QS: al-Baqarah/2:283;
وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانُُ مَّقْبُوضَةُُ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ وَلاَ تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمُُ قَلْبُهُ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمُُ
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
وَإِن كُنتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانُُ مَّقْبُوضَةُُ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللهَ رَبَّهُ وَلاَ تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمُُ قَلْبُهُ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمُُ
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperolah seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
2. Keadilan(‘Adalah)
Adil memiliki makna, meletakan sesuatu
pada tempatnya; menempatkan secara proporsional; perlakuan setara atau
seimbang. Dalam al-Qur`an kata-kata adil sering di kontradiktifkan dengan makna dzulm (dzalim)
dan itsm (dosa). Adapun makna keadilan disisi lain sering
diartikan sebagaisikap yang selalu menggunakan ukuran sama, bukan ukuran
ganda.
Dan sikap ini yang membentuk seseorang
untuk tidak berpihak pada salah satu yang berselisih. Menurut Al-Ashfahani
“adil”, dinyatakan sebagai memperlakukan orang lain setara dengan
perlakuan terhadap diri sendiri. Dimana ia berhak mengambil semua yang menjadi
haknya, dan atau memberi semua yang menjadi hak orang lain. (Quraish
Shihab,2002).
Amanah adalah sumber keadilan, dan keadilan adalah sumber keamanan dan kebahagiaan. (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2006, ibid.). Maka setelah Allah menyuruh manusia menyampaikan amanah, kemudian Ia memerintahkan manusia agar menegakkan keadilan (QS.al-Nisa’:58).
Sifat dan sikap adil ada dua macam. Adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil yang behubungan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan.
Adil perseorangan ialah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Bila seseorang mengambil haknya tanpa melewati batas, atau memberikan hak orang lain tanpa menguranginya, itulah yang dinamakan tindakan adil.
Adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya tindakan hakim yang menghukum orang yang jahat sepanjang neraca keadilan. Jika hakim menegakkan necara keadilannya dengan lurus dikatakanlah dia hakim yang adil. Jika ia berat sebelah maka dipandanglah ia dzalim. Pemerintah dipandang adil jika dia mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata, baik di kota-kota maupun di desa-desa(QS.5:8).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ للهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ {8}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmuterhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan.
Amanah adalah sumber keadilan, dan keadilan adalah sumber keamanan dan kebahagiaan. (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, 2006, ibid.). Maka setelah Allah menyuruh manusia menyampaikan amanah, kemudian Ia memerintahkan manusia agar menegakkan keadilan (QS.al-Nisa’:58).
Sifat dan sikap adil ada dua macam. Adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil yang behubungan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan.
Adil perseorangan ialah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Bila seseorang mengambil haknya tanpa melewati batas, atau memberikan hak orang lain tanpa menguranginya, itulah yang dinamakan tindakan adil.
Adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya tindakan hakim yang menghukum orang yang jahat sepanjang neraca keadilan. Jika hakim menegakkan necara keadilannya dengan lurus dikatakanlah dia hakim yang adil. Jika ia berat sebelah maka dipandanglah ia dzalim. Pemerintah dipandang adil jika dia mengusahakan kemakmuran rakyat secara merata, baik di kota-kota maupun di desa-desa(QS.5:8).
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ للهِ شُهَدَآءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَئَانُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ {8}
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmuterhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan.
3. Keseimbangan(al-Wustho)
Konsep keseimbangan menjadi konsep
lanjutan yang memiliki benang merah dengan konsep keadilan. Allah menggambarkan
posisinya dengan kondisi dimana bila terjadi ketimpangan dalam kehidupan
berekonomi, maka hendaknya dikembalikan pada posisi semula. Posisi yang tuju
adalah keseimbangan, pertengahan, keadilan.
Beberapa landasan yang mendukung prinsip ini diantaranya:
أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانَ {8} وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلاَتُخْسِرُوا الْمِيزَانَ {9}
Artinya: “Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (QS. 55:8). Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. 55:9)
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…
Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….
Beberapa landasan yang mendukung prinsip ini diantaranya:
أَلاَّ تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانَ {8} وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلاَتُخْسِرُوا الْمِيزَانَ {9}
Artinya: “Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. (QS. 55:8). Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. (QS. 55:9)
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا…
Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….
Keseimbangan adalah tidak berat sebelah,
baik itu usaha-usaha kita sebagai individu yang terkait dengan keduniaan dan
keakhiratan, maupun yang terkait dengan kepentingan diri dan orang lain,
tentang hak dan kewajiban. Sebagaimana Allah menyebutnya dalam QS. 2:201 dan
QS. 25:67
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a:”Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. 2:201)
وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا {67}
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yangdemikian.(QS.25:67)
Konsep keseimbangan ini juga berdasar pada rasa keadilan yang didukung dengan suatu tingkat kebaikan (ihsan) dalam pemenuhan hak seseorang. Bila rasa Adil adalah mengambil apa yang menjadi haknya dan memberikan apa yang menjadi hak orang lain, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya (Murasa S, 2004). Dalam Islam, konsep ini tidak hanya menjadi prinsip dasar manusia sebagai acuan dalam berbagai kegiatan ekonominya, tetapi juga manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga keseimbangan yang telah tercipta sebelumnya.
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang berdo’a:”Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. 2:201)
وَالَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا {67}
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yangdemikian.(QS.25:67)
Konsep keseimbangan ini juga berdasar pada rasa keadilan yang didukung dengan suatu tingkat kebaikan (ihsan) dalam pemenuhan hak seseorang. Bila rasa Adil adalah mengambil apa yang menjadi haknya dan memberikan apa yang menjadi hak orang lain, maka Ihsan adalah memberi lebih banyak dan mengambil lebih sedikit dari apa yang menjadi haknya (Murasa S, 2004). Dalam Islam, konsep ini tidak hanya menjadi prinsip dasar manusia sebagai acuan dalam berbagai kegiatan ekonominya, tetapi juga manusia mempunyai kewajiban untuk menjaga keseimbangan yang telah tercipta sebelumnya.
4.
Kebenaran (al-Shidqah)
Kebenaran (al-Shidqah) ialah
berlaku benar, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. (Majelis Tarjih dan
Tajdid PP Muhammadiyah, 2006, ibid.). Kewajiban bersifat dan
bersikap benar ini diperintahkan dalam al-Qur’an:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِين
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah/9:119).
Sikap benar ini adalah salah satu yang menentukan status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِين
”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (QS. Al-Taubah/9:119).
Sikap benar ini adalah salah satu yang menentukan status dan kemajuan perseorangan dan masyarakat.
Dalam peribahasa sering disebutkan, ”Berani
karena benar, takut karena salah”. Betapa kebenaran itu menimbulkan
ketenangan yang dengannya melahirkan keberanian. RasulullahShallallâhu
’Alaihi wa Sallam telah memberikan contoh betapa beraninya berjuang
karena beliau berjalan di atas prinsip-prinsip kebenaran.
5. Tolong Menolong (Ta’awun)
Prinsip-prinsip
dasar ekonomi Islam lainnya yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar pembangunan
masyarakat adalah mewujudkan kerjasama umat manusia menuju terciptanya
masyarakat sejahtera lahir batin (M. Yunan Yusuf, dkk, 1995:4).
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tolong menolong (ta’awun) dalam kebajikan dan taqwa, jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran:
……….وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ…..
“…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (QS. al-Maidah/5:2).
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip kerjasama dalam ekonomi Islam adalah keniscayaan. Umat manusia menginginkan ketersalingan (mutualism) akan rasa tolong menolong (ta’awun) terutama yang terkait dengan kehidupan ekonomi, tetapi dengan syarat tidak boleh tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.
Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tolong menolong (ta’awun) dalam kebajikan dan taqwa, jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran:
……….وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَتَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ…..
“…..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran….” (QS. al-Maidah/5:2).
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip kerjasama dalam ekonomi Islam adalah keniscayaan. Umat manusia menginginkan ketersalingan (mutualism) akan rasa tolong menolong (ta’awun) terutama yang terkait dengan kehidupan ekonomi, tetapi dengan syarat tidak boleh tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran.
6. Kebersamaan dan Persamaan (Ukhuwah)
Prinsip-prinsip
dasar ekonomi Islam selanjutnya yang berkaitan dengan nilai-nilai dasar
pembangunan masyarakat adalah memupuk rasa persamaan derajat, persatuan, dan
kekeluargaan diantara manusia (M. Yunan Yusuf, dkk, 1995:4).
Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia dari keturunan yang sama:
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat/49:13)
Dari ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa Islam mengajarkan bahwa umat manusia adalah keluarga besar kemanusiaan, karena berasal dari satu keturunan. Kasih sayang satu sama lain akan menjunjung tinggi nilai kehormatan manusia, memupuk rasa persamaan derajat, persatuan, dan kekeluargaan manusia. Di hadapan Allah, semua manusia adalah sama, yang membedakan hanya kualitas taqwanya. Bahwa perbedaan ada, bukan untuk dijadikan kesenjangan (gap), tapi justru untuk mencapai keseimbangan atau keselarasan. Misalnya saja, adanya gradasi (hirarki) ekonomi menurut Islam. Hal ini merupakan Sunnatulah (hukum alam), merupakan bagian kadar-kadar yang ditentukan Allah. Adapun “kesenjangan” adalah lawan dari Sunnatullah (dibuat atas keserakahan sebagian manusia), yang justru merusak keseimbangan.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa Allah menciptakan manusia dari keturunan yang sama:
يَآأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. al-Hujurat/49:13)
Dari ayat di atas dapat disimpulkan, bahwa Islam mengajarkan bahwa umat manusia adalah keluarga besar kemanusiaan, karena berasal dari satu keturunan. Kasih sayang satu sama lain akan menjunjung tinggi nilai kehormatan manusia, memupuk rasa persamaan derajat, persatuan, dan kekeluargaan manusia. Di hadapan Allah, semua manusia adalah sama, yang membedakan hanya kualitas taqwanya. Bahwa perbedaan ada, bukan untuk dijadikan kesenjangan (gap), tapi justru untuk mencapai keseimbangan atau keselarasan. Misalnya saja, adanya gradasi (hirarki) ekonomi menurut Islam. Hal ini merupakan Sunnatulah (hukum alam), merupakan bagian kadar-kadar yang ditentukan Allah. Adapun “kesenjangan” adalah lawan dari Sunnatullah (dibuat atas keserakahan sebagian manusia), yang justru merusak keseimbangan.
7. Kebebasan (Freewill)
Secara
umum makna kebebasan dalam ekonomi, dapat melahirkan dua pengertian yang luas,
yakni; kreatif dan kompetitif. Dengan kreatifitas, seseorang bisa mengeluarkan
ide-ide, bisa mengekplorasi dan mengekspresikan potensi yang ada dalam diri dan
ekonominya untuk menghasilkan sesuatu. Sedangkan dengan kemampuan kompetisi,
seseorang boleh berjuang mempertahankan, memperluas dan menambah lebih banyak
apa yang diinginkannya.
Dalam
ekonomi Islam, makna kebebasan adalah memperjuangkan apa yang menjadi haknya
dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya sesuai perintah syara’.
Sebagaimana
konsep kepemilikan, konsep kebebasan dalam berekonomi menurut Islam, tidak
boleh keluar dari aturan-aturan syari’at. Bahwa manusia diberi keluasan dan
keleluasaan oleh Allah untuk berusaha mencari rizki Allah pada segala bidang,
ya. Namun tetap pada koridor usaha yang tidak melanggar aturan –Nya. Firman
Allah swt:
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا قُلْ مَاعِندَ اللهِ خَيْرُُ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ {11}
Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)
فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ {10} وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا قُلْ مَاعِندَ اللهِ خَيْرُُ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ {11}
Artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62:10)Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62:11)
Kebebasan
ekonomi Islam adalah kebebasan berakhlaq. Berakhlaq dalam berkonsumsi,
berproduksi dan berdistribusi. Dengan kebebasan berkreasi dan berkompetisi akan
melahirkan produktifitas dalam ekonomi. Dengan dasar ayat diatas juga, Islam
menyarankan manusia untuk produktif. Kegiatan produksi adalah bagian penting
dalam perekonomian.
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ekonomi Islam didefinisikan sebagai cabang ilmu yang
membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui alokasi dan distribusi
sumber daya yang langka, yang sejalan dengan ajaran islam, tanpa membatasi
kebebasan individu ataupun menciptakan ketidakseimbangan makro dan ekonomi
logis.
Prinsip-prinsip kegiatan Ekonomi Islam adalah sebagai
berikut:
1.
Kekuasaan
milik tertinggi adalah milik Allah dan Allah adalah pemilik yang absolute atas
semua yang ada.
2.
Manusia
merupakan pemimpin (khalifa) Allah di bumi tapi bukan pemilik yang sebenarnya.
3.
Semua
yang didapatkan dan dimiliki oleh manusia adalah karna seizing Allah, oleh
karena itu saudara-saudaranya yang kurang beruntung memiliki hak atas sebagian
kekayaan yang dimiliki saudara-saudaranya yang lebih beruntung.
4.
Kekayaan
tidak boleh ditumpuk terus atau ditimbun.
5.
Kekayaan
harus diputar.
6.
Eksploitasi
ekonomi dalam segala bentuknya harus dihilangkan.
7.
Menghilangkan
jurang perbedaan antar individu dapat menghapuskan konflik antar golongan
dengan cara membagikan kepemilikan seseorang setelah kematiannya kepada para
ahli warisnya.
8.
Menetapkan
kewajiban yang sifatnya wajib dan sukarela bagi semua individu termasuk bagi
anggota masyarakat yang miskin.
B. Saran
Sebaiknya masyarakat maupun
lembaga enkonomi di Indonesia lebih menerapkan system ekonomi islam. Karena
selain sebagai perwujudan masyarakat Indonesia yang bermayoritas Muslim,
dilihat juga dari konsepnya yang adil sehingga bias mensejahterakan semua pihak
yang terlibat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar